Indonesia punya sawah tadah hujan yang lumayan luas. Sistem pengairannya ada yang tetap mengandalkan curah hujan agar hanya mampu panen sekali setahun, ada yang proses pengairanya teratur bersama bagus.

Seperti halnya di Desa Singoyudan Kecamatan Mirit, Kebumen, Jawa Tengah, lahan sawah tadah hujan ini kini sudah mampu panen 3 kali didalam setahun bersama inovasi pompa listrik bersama sumur sebagai solusi di sedang kekeringan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kebumen, Tri Haryono, menyatakan luas sawah di Desa Singoyudan raih 119 hektare (ha) yang merupakan sawah tadah hujan. Desa berikut dulunya hanya panen sekali setahun. Namun kala ini para petani sudah berubah pakai pompa air listrik.

“Dulu para petani juga pakai pompa air yang pakai bahan bakar. Namun untuk menghemat bahan bakar saat ini petani berubah ke pompa air listrik

Ia memberi tambahan kala ini sudah ada 15 pompa listrik yang diletakkan pada tempat tinggal tempat tinggal pompa yang mampu mengairi sawah para petani. Inovasi ini dinilai mampu menghemat biaya hingga 65% agar pelan-pelan semua petani mulai beralih.

Lebih lanjut, Tri mengatakan, pada musim kemarau layaknya yang sudah di informasikan Kementerian pertanian (Kementan), petani tetap mampu berproduksi sebab sudah pakai sumur dan pompa air dengan menggunakan water meter amico. Selain sawah, komoditas hortikultura juga berkembang sebab air saat ini sudah cukup.

“Ada 6 kecamatan yang tabah hujan mulai berasal dari Kecamatan Mirit, Ambal, Buluspesanyren, Klirong, Petanahan, dan Puring. Di sana komoditas hortikulturanya juga berkembang,” ungkapnya.

Di kesempatan berbeda, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi mengungkapkan Kementan terus mengupayakan ketersediaan pangan khususnya beras sebagai pangan pokok didalam situasi atau tantangan apapun. Sesuai panduan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, penyediaan pangan adalah tugas negara agar didalam situasi apa-pun mengolah pangan kudu tangguh.

“Kementerian Pertanian memberi tambahan dukungan penuh. Bantuan dan program nyata layaknya benih varietas unggul yang tahan kekeringan, alat mesin pertanian berupa pompa, asuransi pertanian untuk ganti rugi kalau gagal panen atau penggantian benih dan dana kredit bisnis rakyat,” ucapnya.

Suwandi menyatakan Kementan punya program pengembangan petani produsen benih padi berbasis korporasi petani, manfaat mengolah benih yang tahan kekeringan agar ketersediaan benih terjamin. Produksi tingggi maka kudu pakai benih padi yang memiliki kualitas sebab benih adalah penciri produktivitas.

“Oleh sebab itu, kami dukung peningkatan akses bagi petani agar enteng meraih benih unggul. Dengan memberdayakan petani jadi penangkar yang independen maka dapat memperluas penyediaan benih berkualitas,” terangnya.

Lebih lanjut Suwandi menilai terobosan berupa inovasi pompa air listrik sebagai solusi antisipasi kekeringan ini mampu mendukung manfaat raih tujuan mengolah di th. 2020 ini. Perlu diketahui, pada MT II tujuan tanam seluas 5,6 juta hektare, agar di bulan Juli hingga Desember dapat ada stok 12,5 hingga 15 juta ton beras. Sedangkan realisasi luas panen Januari-Juni 5,83 juta hektare bersama mengolah 29,31 juta ton gabah kering giling.

“Penggunaan pompa air pastinya mendukung didalam percepatan tanam dan mengoptimalkan lahan berasal dari yang tidur jadi ditanami padi sebab adanya air irigasi. Maka kami dorong tempat lain juga untuk pakai pompa air dan petaninya pun mampu menghemat biaya. Kami di Direktorat Jenderal Tanaman Pangan tetap turun ke lapang membina dan memantau situasi lapangan,” pungkas Suwandi.

By toha