Fokus dalam mencetak generasi-generasi Qur’ani, Sebelum melanjutkan artikel Cerita Pengalaman Selama Hidup Di Pondok Pesantren, Sekedar kami info:

Apabila Anda Mendambakan putra/putri untuk menjadi Tahfidz kunjungi website Pondok Pesantren Tahfidz

Dengar sebuah kata Pondok Pesantren kemungkinan beberapa orang akan langsung berasa gatal-gatal sekalian menggenggam perutnya. Biasanya ponpes selalu sama dengan lingkungan yang kurang bersih, hingga muncul gatal-gatal dan dalam Pesantren harus hidup sedih dengan semua keterbatasan-keterbatasan.

Sebetulnya tidak getho kok. Ada beberapa ponpes kekinian yang bahkan juga semakin nyaman daripada rumah sendiri. Contoh Pondok Pesantren besar: Gontor, Tebuireng, Langitan,Suci, dan contoh-contoh lainnya.

Tetapi, dari semuanya tidak semuanya orang dapat mondok di beberapa tempat itu. Hingga jalan keluarnya beberapa ada yang pilih pesantren yang biasa saja. Atau yang tidak terlampau mewahlah.

Contoh pesantren yang berada di tepian kota atau yang dikenali dengan tempat terplosok-plosok, umumnya pesantren itu gampang disandingkan di wilayah perkampungan. Tetapi tidak jadi masalah, kan hasil pengetahuan yang akan didapat sama juga tidak ada bedanyalah. Hehehehe!!! Iyakan.

Banyak cerita-kisah kehidupan di Pesantren dimulai dari hal yang paling menyenangkan sampai hal yang paling memilukan serta hal yang paling malas. Nach, apa? Coba, tentunya donk!!! Untuk kalian yang sempat Mondok tentunya tahu itu?

Kemungkinan beberapa dari kalian pernah merasakan beberapa hal itu. Apa lagi untuk kalian yang dahulunya sempat juga Mondok. Bagaimana!!! nikmat bukan. Hehehehe

Meskipun begitu berasa pusing dan lain-lain, tetapi untuk Anak Pondok tidak jadikan permasalahan atau berkecil hati apa lagi sampai patah semanagat. Ya, nggaklah anak pondok kok patah semangat.

Untuk Anak Pondok walau hafalan itu buat pusing, depresi, bahkan ada rasa malas-malas dan lain-lain, saya percaya tentu dapat melaluhinya. Kenyataannya banyak yang menghatamkan sesui sasaran yang di tetapkan, walau beberapa ada yang tidak dapat menghatamkanya.

Walau beberapa tidak dapat menghatamkanya, tetapi mereka tak pernah mengenali kata berserah. Oleh karena itu mereka terus berusaha dan terus usaha untuk menghatamkanya, bahkan juga ada beberapa kok, yang hingga direlaiin tidak tidur bermalaman, cuman untuk menghatamkan Hafalan yang telah ditarget. Hehehehe penuh perjuangan kan!!!

Atas semua perjuangan dan keistiqomahannya, pada akhirnya semua anak pondok bisa menuntaskan sasarannyakan walau harus memakan waktu yang sedikit lama. Nach, itu ia, perjuangan anak-anak pondok disaat itu sama sepertiku. Hehehehe.. Walau awalannya dahulu benar-benar susah tetapi pada akhirnya dapat.

Kemungkinan beberapa dari kalian, saya percaya pernah memperlajarinya mengenai isi pada kitab kuning ini. Yang didalamnya beragam jenis pengetahuan dan narasi beberapa Teman dekat-sahabat Nabi Saw, bergantung nama kitab dan cerita siapa? Kerana kitab kuning itu ada beberapa bahkan beberapa ribu dan tiap kitab berbeda isi atau ulasanya.

Saat sebelum memperlajari isi dan arti dari Kitab-kitab Kuning itu. Umumnya anak pondok diminta belajar dahulu beberapa dasar untuk pahami isi pada kitab kuning itu. Yang terang beberapa dari kalian tentu tahu? Apa, itu Kitab Jurumiah, Impriti, tujuan, Kunci Nahwu, dan Nahwu Sorof.

Untuk beberapa santri harus hukumnya terutamanya yang ingin mempelajari atau ingin pahami isi-isi dari kitab kuning itu.

Nach, untuk belajar yang ini, tidak gampang bahkan juga lebih susah daripada mengingat Al-Qur’an. Kemungkinan beberapa dari kalian telah paham lah mengapa saya berani menjelaskan hal itu. Karena dahulu saya sendiri pernah merasakannya tingkat kesusahanya.

Kemungkinan menurut kalian beberapa tentu ada yang ngomong acara makan-makan itu tidak “Waow ” Saya percaya ada yang ngomong “Iya” Betulkan, atau menurut kalian biasa saja. Tetapi, untuk beberapa Santri acara makan-makan itu ialah Surganya beberapa santri, Mengapa? “Iya lah” kan Santri itu jarang-jarang makan. Hehehehehe

Tidak boleh terkejut bila kalian pernah masuk di pesantren, terus kebenaran kalian saksikan beberapa santri pada rebutan makanan, saya percaya tentu beberapa dari kalian pernah saksikan hal tersebut. Apa lagi untuk kalian yang sempat Nyantri , tentu tahukan.

Nach, kembali lagi dari ulasan awalnya. Kemungkinan untuk beberapa santri makanan seperti surganya, dan uang ialah cuman rupiah yang tidak terlampau di prioritaskan, Maknanya di di dunia pesantren itu, dunia bukan arah khusus, tetapi Akhiratlah sebagai arah intinya.

Di dunia tidak perlulah banyak uang yang perlu hidup cukup dan dapat kecukupan untuk segala hal. Berbeda jauhi dari kehidupan luar, kemungkinan jika untuk kehidupan luar Uang ialah segala hal dan makanan itu yang Nomor Dua “Iyakan” Nach, untuk kamu yang mengenal atau sisa Satri karena itu untungkanlah. Hehehehe…

Nach, untuk yang ini, kemungkinan beberapa dari kalian khususnya yang dahulu pernah hidup di pesantren, tentu kalian pernah mendapat takziran atau hukuman, khususnya yang super nakal. Dalam pesantren tentu yang bernama takziran itu pasti, bagaimana tidak. Coba pikirkan bila takziran atau hukuman pondok tidak ada, tentunya donk. Santri-santri akan seenaknya sendiri, terus apa yang terjadi kelak.

Nach, oleh karena itu takziran atau hukuman di pondok sangat berlaku apa lagi untuk yang super nakal. Tentu banyak terima hukuman, tetapi dibalik itu tentunya besok kelak bisa menjadi sebuah bahan penceritahan dan kenangan.

Coba, pikirkan bila sekali terkena permasalahan atau kasus. Tentu beberapa dari kalian sudah pernah ngerasahin bagaiman rasanya disiram sama air kotoran selokan. Walau sebenarnya air itu sisa mandi dan sisa kencingan anak-anak pesantren.

Pikirkan saja air yang coklat, pundak tidak lezat alias super pundak, apabila terserang kulit sangat terasa gatal. Itu takziran atau hukuman di pondok yang berjalan, kemungkinan itu tidak berat seperti lari-lari. Tetapi itu sangat menjijikkan “iya” kan. Jika saya andaikan bisa ditawar mendingan lari-lari 10x keliling lapangan tidak jadi masalah asal tidak disiram sama air kotoran yang rasanya super pundak dan super gatel.

Tetapi terangnya di pesantren tidak ada kata tawar menawar. Hukuman itu, iya “itu” karenanya sudah jadi undang-undang yang berjalan dalam pesantren dan siapa saja yang menyalahi ketentuan di pesantren bersiap terkena hukuman itu. Ehhh… tetapi juga lihat-lihat kekeliruanya dahulu. Bila tidak begitu berat ya mustahil disiram sama air itu. Paling ya diminta berdiri dimuka gedung pesantren sekalian menjewer kuping.

Setip dihari liburan yaitu hari Jum’at, di mana beberapa santri banyak habiskan waktu dengan melangsungkan laga bola antara Pondok Pesantren. Menang kalah masalah belakang yang paling penting berani maju.
Tidak mengenali waktu main ada main dan main. Itu permainan beberapa santri, maju terus tidak mengenali kata capek, bermain bebas masuk keluar tanpa wasit dan lain-lain.

By nasya