Pentingnya unsur bunyi dalam suatu puisi bukan hanya untuk mencipta rima. Bunyi-bunyi tertentu membawa nada tertentu pula. Misalnya, bunyi “i” dalam bahasa Indonesia terasa lincah, bunyi “u” dan “e” (pepet) terasa berat dan serius, dan lain sebagainya. Untuk bisa menghormati puisi asli, hal-hal yang menyangkut nada, suasana jiwa dari puisi asli ini juga harus dipertahankan, sekali lagi “sebisa mungkin”. Prosa liris hendaknya diterjemahkan menjadi prosa liris juga. Puisi yang lincah dan ringan, janganlah diterjemahkan menjadi puisi yang berbentuk berta dan serius. Dan bagi penerjemah yang menggunakan bahasa sasaran bahasa Indonesia, mungkin penggunaan bahasa daerah akan bisa menolong manakala kosa kata bahasa Indonesia tidak mampu lagi.

 

 

Mengenai matra atau irama, yang di dalam puisi bahasa Inggris didominasi oleh matra iambic, memang sulit dialihkan ke dalam bahasa Indonesia. Puisi-puisi Inggris, terutama puisi-puisi lama, memang mempunyai matra yang kental karena pada dasarnya kata-kata bahasa Inggris mempunyai sistem penekanan yang hampir konsisten. Sedang kan kata-kata bahasa Indonesia tidaklah begitu. Oleh karena itu amatlah sulit bila jasa penerjemah harus mengalihkan matra puisi bahasa Inggris ke dalam puisi bahasa Indonesia. Dengan kata lain, seandainya penerjemah memaksakan diri untuk mengalihkan matra itu, bahan apa yang mau dipakai?

 

Bagaimana dengan pilihan kata? Yang dimaksud pilihan kata (ragam bahasa) di sini adalah seperti yang terkandung dalam kasus berikut ini. Haruskah puisi bahasa Inggris dari abad IX diterjemahkan pula ke dalam bahasa Melayu abad IX? Menurut Barnstone (dalam Basnett McGuire, 1980), hal demikian tidaklah perlu. Mungkin lebih baik bahasa Inggris abad ke IX itu diterjemahkan saja kedalam bahasa Indonesia jaman sekarang, sehingga pembaca tidak akan kesulitan memahaminya.

 

Sebagai contoh, puisi karya Shakerspeare yang berbahasa Inggris modern awal, yang notabene berbeda dari bahasa Inggris yang dipakai seka rang, bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia jaman sekarang, bukan bahasa Melayu tempo doeloe. Memang ada sedikit yang hilang dari puisi aslinya, yakni suasana jaman Shakespeare hidup. Akan tetapi, penerjemah juga harus ingat bahwa tujuannya adalah untuk menjembatani pesan dari penyair asli pada pembaca dalam bahasa sasaran. Lagi pula ada unsur lain yang bisa membawa semangat jaman Shakerpeare, tema atau isi. Dari alasan inilah, hasil terjemahan kebanyakan ditulis dalam gaya bahasa dan cita rasa pada saat puisi itu diterjemahkan.